Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

REVIEW JURNAL "MOTIVASI"



KELOMPOK BUNGA ANGGREK:
3PA02
Ahmad Dedy S.          (10513404)
Aprillia Lentera W.     (19513928)
Gipthasari A. P           (13513745)
Reynaldo Cesar           (17513484)
Siti Aufaa Ni’matin    (18513527)
Vanya Anugerahayu   (17512549)



Judul                     : Pengaruh Budaya Organisasi Terhadap Motivasi Dan Kepuasan Kerja Serta Kinerja Karyawan Pada Sub Sektor Industri Pengolahan Kayu Skala Menengah  Di Jawa Timur.
Jurnal                         : Jurnal Manajemen & Kewirausahaan
Volume & Halaman  : Vol. 7, No. 2, September  2005: 171-188
Tahun                         : 2005
Penulis                        : H.Teman Koesmono

I.                   Latar Belakang
Salah satu masalah nasional yang dihadapi oleh bangsa Indonesia saat ini adalah penanganan terhadap rendahnya kualitas sumber daya manusia. Jumlah sumber daya manusia yang besar apabila dapat didayagunakan secara efektif dan efisien akan bermanfaat untuk menunjang gerak lajunya pembangunan nasional yang berkelanjutan. Melimpahnya sumber daya manusia yang ada saat ini mengharuskan berfikir secara seksama yaitu bagaimana dapat memanfaatkan sumber daya manusia  secara optimal. Agar di masyarakat tersedia sumber daya manusia yang handal diperlukan pendidikan yang berkualitas, penyediaan berbagai fasilitas sosial, lapangan pekerjaan yang memadai. Kelemahan dalam penyediaan berbagai fasilitas tersebut akan menyebabkan keresahan sosial yang akan berdampak kepada keamanan masyarakat. Saat ini kemampuan sumber daya manusia masih rendah baik dilihat dari kemampuan intelektualnya maupun keterampilan teknis yang dimilikinya. Persoalan yang ada adalah bagaimana dapat menciptakan sumber daya manusia yang dapat menghasilkan kinerja yang optimal sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Produktivitas kerja merupakan tuntutan utama bagi perusahaan agar kelangsungan hidup atau operasionalnya dapat terjamin. Produktivitas suatu badan usaha dapat memberikan kontribusi kepada pemerintah daerah maupun pusat, artinya dari produktivitas regional maupun nasional, dapat menunjang perekonomian baik secara makro maupun mikro. Mengenai produktivitas kerja menjadi masalah nasional pula, karena produktivitas tenaga kerja Indonesia masih memprihatinkan. Zadjuli (2001 : 6); kualitas sumber daya manusia Indonesia dewasa ini dibandingkan dengan kualitas sumber daya manusia di beberapa negara anggota-anggota ASEAN nampaknya masih rendah kualitasnya, sehingga mengakibatkan produktivitas per jam kerjanya masih rendah (menurut World Development Report, Indonesia pada tahun 2002 produktivitas per pekerja per jam sebesar 1,84 US $ dan yang tertinggi adalah Singapura 35,91 US $, diikuti oleh Malaysia 4,71 US $ dan Thailand 4,56 US $). Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, untuk itu perusahaan harus berusaha menjamin agar faktor-faktor yang berkaitan dengan produktivitas tenaga kerja dapat dipenuhi secara maksimal. Kualitas sumber daya manusia akan terpenuhi apabila kepuasan kerja sebagai unsur yang berpengaruh terhadap kinerja dapat tercipta dengan sempurna. Membahas kepuasan kerja tidak akan terlepas dengan adanya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepuasan kerja seseorang. Dalam perusahaan manufacturing, produktivitas individu maupun kelompok sangat mempengaruhi kinerja perusahaan hal ini disebabkan oleh adanya proses pengolahan bahan baku menjadi produk jadi. Mengingat permasalahannya sangat komplek sekali, maka pihak-pihak yang terlibat dalam proses produksi harus cermat dalam mengamati sumber daya yang ada. Banyak hal yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja, sehingga pengusaha harus menjaga factor-faktor yang berpengaruh terhadap kinerja dapat terpenuhi secara maksimal. Persoalan kepuasan kerja akan dapat terlaksana dan terpenuhi apabila beberapa variabel yang mempengarhui mendukung sekali. Variabel yang dimaksud adalah Culture and Motivation.

II.                Tujuan
Tujuan dari penelitian ini untuk memenemukan bagaimana besarnya pengaruh Budaya Organisasi terhadap Motivasi, Kepuasan Kerja dan Kinerja karyawan khususnya karyawan dibagian produksi. Unit analisisnya adalah karyawan produksi pada subsektor industri pengolahan kayu di Jawa Timur.

III.             Metode

Desain Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah dan rumusan masalah yang ada karakteristik masalah yang diteliti dalam penelitian ini dapat dikalsifikasikan sebagai penelitian dengan hipotesis. Peneliti melaksanakan kegiatan penelitian terhadap faktafakta yang terjadi saat ini dari suatu populsi pekerja dari perusahaan pengoahan kayu berskala meneengah. Penelitian ini akan menyajikan sampai sejauh mana pengaruh budaya organisasi terhadap kepuasan kerja dan motivasi serta kinerja karyawan.  

Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data interval, yang dinyatakan dalam angkaangka mulai dari skala yang terkecil sampai dengan yang terbesar dan mempunyai jarak yang sama antara angka yang satu dengan yang lainnya. Sedangkan sumber data yang digunakan adalah bersifat primer dengan cara menyebarkan kuisioner kepada responden.  

Identifikasi Variabel
a. Variabel Independent: Budaya organisasi
b. Variabel Dependent: Motivasi, Kepuasan Kerja, Kinerja

Teknik Pengambilan Sampel
Penentuan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quota Sampling karena sudah diketahui jumlah karyawan dari lima perusahaan pengolahan kayu berskala menengah (Sesuai SK Dir BI, No.30/45/Kep/Dir/UK tgl.5 Januari 1997)  dilima kota yaitu Surabaya, Gresik Sidoarjo, Mojokerto dan Pasuruan. Sejumlah 382 orang karyawan pabrik yang dipakai sebagai obyek penelitian. Perusahaan yang dimaksud adalah:
1.      Surabaya : PT.Efrata Indah dengan sampel 69 orang
2.      Gresik: PT.Tulus Tritunggal dengan sampel 78 orang
3.      Sidoarjo: PT.Rimba Prima Nusantara dengan sampel 91 orang
4.      Mojokerto: PT.Wijaya Perkasa Indah dengan sampel 67 orang
5.      Pasuruan: PT.Hasil Alam Indo Indah dengan sampel 77 orang

Alat dan Metode Pengumpulan Data 
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dengan menggunakan alat yaitu kuesioner yang telah disiapkan dimana responden dapat memilih jawaban yang sesuai dengan persepsinya (pertanyaan tertutup). Pengukuran data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah skala likert dengan ukuran sebagai berikut: 1 = Sangat tidak setuju. 2 = Tidak setuju, 3 = Netral, 4 = Setuju, 5 = Sangat setuju.  Teknik Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan SEM (Structural Equation Modeling) program Analysis of Moment Structure (AMOS) Versi 5.0 (Ghozali : 2004) disertai dengan uji kesesuaian model (Goodness of Fit) pada persamaan struktural.

IV.             Hasil
Dari hubungan kausalitas nampak bahwa pengaruh yang terbesar adalah dari motivasi terhadap kepuasan kerja yaitu 1.462 sedangkan urutan lainnya adalah budaya organisasi terhadap motivasi sebesar 0.680 dan motivasi terhadap kinerja sebesar 0.387, budaya organisasi terhadap kinerja sebesar 0,506 dan terhadap kepuasan kerja sebesar 0.183 dan yang terakhir adalah kepuasan kerja terhadap kinerja sebesar 0.003 Dari hasil ini nampak bahwa motivasi merupakan hal yang pokok dalam mempengaruhi kepuasan kerja, pernyataan umum bahwa seseorang akan tercapai kepuasan kerjanya  apabila motivasi yang ada dalam perusahaan sangat mendukung sekali dapat diterima. 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MOTIVASI dalam FILM EVEREST



 KELOMPOK BUNGA ANGGREK:
Nama Anggota: 3pa02
  1. Ahmad Deddy S. (10513404)
  2. Aprillia Lentera W. (19513928)
  3. Gipthasari A.P (13513745)
  4. Reynaldo Caesar (17513484)
  5. Siti Aufaa Ni Matin (18513527)
  6. Vanya Anugrahayu (17512549)



Review Film "EVEREST 2015"
Everest menagkap realitas pendakian puncak setinggi 8.848 meter dengan cara yang impresif secara visual, namun karakterisasi dan drama antar manusia bukanlah kekuatan utamanya. mesti tidak menyebutkan  bahwa film ini di angkat dari buku laris into thin air yang ditulis jurnalis Jon Krakeur, Everest menggambil cerita yang sama yaitu tragedi mei 1996 yang menewaskan 8 pendaki. Sementara filmnya sendiri memang menfokuskan pada tragedi ini namun everest tak pernah menjadi melodramatis.
Bagi sebagian orang ada sensasi yang berbeda ketika berhasil menginjakkkan kaki di puncak everest. Gunung yang mempunyai tinggi 8.848 meter diatas permukaan laut ini menjadi salah satu gunung paling berbahaya di dunia, namun hal itu tidak mengurungkan niat beberapa pendaki untuk menghentikan langkah kakinya agar sampai ke puncak gunung everest.







Film yang diangkat dari kisah perjalanan Rob Hall (Jason Clarke) beserta pendaki lainnya ini terjadi pada tanggal 10 Mei 1996 silam. Curahan hati para pendaki gunung seakan tertuang di film ini. Film ini sangat serat akan pesan perjuangan dalam mencapai tujuan, meski diterpa berbagai masalah selama perjalanan.
Dari segi visual, film Everest terbilang sangat bagus. Penonton akan disuguhkan pemandangan yang mampu membuat takjub semua mata yang melihatnya. Apalagi film produksi Universal Studio ini juga ditampilkan dalam bentuk 3D yang bisa disaksikan di IMAX. Tak pelak sensasi seperti berada di puncak Everest akan didapat penonton kala menyaksikan film.
Dari segi cerita, film Everest tak banyak menceritakan kisah awal dari para pendaki yang menjadi korban keganasan gunung Everest, justru lebih mengangkat cerita dari Adventure Consultans. Sutradara juga lebih memilih menyajikan film secara tidak berlebihan. Apalagi didukung oleh akting para pemain yang sangat natural.





Dari Review di atas dapat dikaitkan dengan teori motivasi
Definisi Motivasi
Basuki (2008) motif berasal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atau bahasa inggrisnya to move. motif diartikan sebagai kekuatan yang terdapat didalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat (driving force).

Walgito (dalam Basuki, 2008) motivasi adalah keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku ke arah tujuan.

Robins dan Judge (2008) motivasi adalah sebagai proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya.

Alport (dalam Feist&feist, 2010) motivasi adalah dorongan yang dirasakan dengan kejadian – kejadian yang terjadi di masa lalu.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli di atas dapat disimpulkan bahwa. Motivasi adalah kekuatan yang terdapat didalam diri seseorang yang mendorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuannya.


Dalam film everest ini:
Bahwa pendaki memiliki motivasi yang lebih untuk menaklukkan keganasan gunung everest. Dari teori para tokoh di atas para pendaki everest ini memiliki kekuatan yang terdapat didalam pribadi setiap orang pendaki sehingga mendorong untuk berbuat sesuatu untuk mencapai tujuannya yaitu puncak gunung everest



Teori-teori Motivasi:
Basuki (2008) membagi teori-teori motivasi berdasarkan dari tiga stimulus yang timbul, sehingga timbul berbagai teori tentang motivasi seperti:
    1. Teori dorongan
    Teori dorongan mengatakan bahwa perilaku didorong ke arah tujuan oleh kondisi yang mendesak (driving state) dalam diri orang atau binatang. Bila kondisi dorongan internal itu muncul, individu didesak untuk berprilaku dengan cara yang sedemikian rupa sehingga mengurangi intensitas dari kondisi mendesak tersebut.

    2. Teori insentif
      Teori ini memberi tekanan pada perilaku yang dimotivasi oleh insentif, teori insentif lebih merupakan suatu daya tarik atau rangsangan yang datang dari depan. Hal penting dari teori insentif  adalah bahwa individu mengharapkan kenikmatan dengan mencapai apa yang disebut insentif positif dan menghindari apa yang dikenal sebagai insentif negatif. 
      3. Teori proses terbalik (opponent-process theory)
      Teori motivasi ini sering terdapat pada orang-orang yang senang menyerempet bahaya untuk mendapatkan kenikmatan setelah bebas dari bahaya itu.
      4. Teori level optimal
      Dalam teori level optimal orang-orang cenderung mencari motivasi misalnya, orang yang terlalu sibuk akan mengalami stres dan kelelahan, dan selanjutnya akan termotivasi untuk melakukan sesuatu guna mengendorkan ketegangan atau stres itu sampai ke level optimal. Begitu pun orang yang terlalu banyak waktu luang sehingga mengalami kebosanan, dan selanjutnya akan mencari kesibukan sampai ke level optimal.


      KESIMPULAN

      Dalam teori dorongan motivasi yang dikaitkan dalam film everest tersebut bahwa dapat disimpulkan :
      Dari definisi dan  ke-empat teori diatas kami dapat mengambil 2 teori motivasi yaitu teori dorongan dan teori proses terbalik . Di dalam film everest ini bahwa para pendaki memiliki dorongan yang kuat untuk keluar dalam bahaya alam yang ada di gunung everest seperti badai salju, bagaimana mereka para pendaki dapat menghadapi medan digunung everest yang berat di dalam film tersebut bagaimana di perlihatkan para pendaki melewati tangga setapak, melewati tebing-tebing terjal dalam keadaan badai salju dan kondisi cuaca yang ekstrem. Didalam pengertian teori proses terbalik yang dijelaskan diatas kami menyimpulkan di dalam film ini bahwa para pendaki tersebut memiliki sebuah kesenangan untuk menyempret bahaya demi sebuah kesenangan yaitu ingin mendaki gunung everest tersebu.

      SOURCE:
      Basuki, M. A. (2008). Psikologi umum. Jakarta: Universitas Gunadarma
      Feist, J, & Feist, J. G. (2010). Teori kepribadian. Jakarta: Mc-Graw-Hill Education and Salemba Empat
      Robins, P. S, & Judge, A. T. (2008). Perilaku organisasi organizational Behavior. Jakarta: Salemba Empat
       
        TRAILER :

       
       


      • Digg
      • Del.icio.us
      • StumbleUpon
      • Reddit
      • RSS