Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

TERAPI KELUARGA DAN TERAPI KELOMPOK #PSIKOTERAPI

TERAPI KELUARGA


Pengertian terapi keluarga:
Terapi keluarga adalah salah satu bentuk intervensi psikologi keluarga sebagai sub bab pada psikologi klinis. Terapi keluarga merupakan pendekatan terapeutik yang melihat masalah individu dalam konteks lingkungan khususnya keluarga dan menitik beratkan pada proses interpersonal. Tetapi keluarga merupakan intervensi spesifik dengan tujuan membina komunikasi secara terbuka dan teraksi keluarga secara sehat.

Cara melakukan terapi keluarga:
Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan yaitu fase 1 perjanjian, fase 2 kerja, fase 3 terminasi.
Fase Perjanjian Perawat dan klien mengembangkan hubungan saling percaya, isu-isu keluarga  diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama
Fase Kerja  Keluarga dengan dibantu oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola interaksi di antara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam keluarga, peraturan-peraturan yang selama ini ada.
Fase Terminasi Di mana keluarga akan melihat lagi proses yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

Manfaat:
Klien :
Mempercepat proses penyembuhan
Memperbaiki hubungan interpersonal
Menurunkan angka kekambuhan

Keluarga :
Memperbaiki fungsi & struktur keluarga
Keluarga mampu meningkatkan pengertian terhadap klien sehingga lebih dapat menerima, toleran & menghargai klien sebagai manusia.
Keluarga dpt meningkatkan kemampuan dlm membantu klien dlm proses rehabilitasi

Efektifitas terapi keluarga:
Walau efektifitas dari terapi keluarga merupakan komponen penting dalam proses pemulihan klien, integrasi terapi keluarga memiliki tantangan sebagai berikut :
  • Pertama, terapi keluarga lebih kompleks daripada pendekatan non-keluarga karena lebih banyak orang yang terlibat
  • Kedua, perlu keterampilan dan pelatihan khusus untuk terapi keluarga yang berbeda dari lainnya.
  • Ketiga, terapi keluarga selama ini sudah terbukti keberhasilannya.


Kasus yang ditangani:
Pada terapi keluarga kasus yang diselesaikanantara lain, kenakalan remaja, hubungan perkawinan, hubungan ketidakharmonisan antara anak dan orang tua, prestasi belajar pada anak, masalah antara saudara.


TERAPI KELOMPOK



Pengertian terapi kelompok:
Konsep terapi kelompok (Group Psychotheraphy) menurut Shertzer dan stone di definisikan sebagai aplikasi prinsip-prinsip terapeutik ke dalam dua atau lebih individu secara bersamaan untuk mengklarifikasi konflik psikologis individu sehingga individu dapat hidup secara normal. Terapi kelompok adalah modalitas pengobatan yang melibatkan sekelompok kecil anggota dan satu atau lebih therapistis dengan pelatihan khusus dalam terapi kelompok.

Tujuan terapi terapi kelompok:
  • individualisasi
  • mengembangkan rasa memiliki
  • mengembangkan kemampuan dasar untuk berpartisipasi
  • meningkatkan kemampuan untuk memberikan kontribusi pada keputusan-keputusan malalui pemikiran rasional dan penjelasan kelompok
  • meningkatkan respek terhadap keberbedaan orang lain
  • mengembangkan iklim social yang hangat dan penuh


Aturan Terapi Kelompok
  • Biasanya terdiri atas 5-12 anggota kelompok.
  • Terapi ini dipimpin oleh psikoterapis dan terdapat eorang pemimpin pendamping, terapi kelompok bekerja dengan banyak orang sekaligus (dalam setiap pertemuan).
  • Waktu (min 1 atau 2x seminggu, 90-120 menit) .
  • Terapi kelompok dapat berlangsung beberapa minggu, beberapa bulan atau beberapa tahun dan biasanya dilakukan seminggu sekali.
  • Format : duduk melingkar atau mengelilingi meja, anggota bisa berhadapan saling melihat
  • partisipan : homongen atau heterogen : jenis kelamin, usia, problem.
  • Bentuk kelompok : Terbuka atau tertutup.
  • Aturan : kerahasiaan
  • Proses kelompok, secara umum, menunjukkan pada pergerakkan kontinu, dinamis dan berarah-tujuan ; secara persis, proses kelompok mengacu pada aksi dan interaksi yang digunakan oleh suatu kelompok untuk berkembang dan memelihara identitasnya sebagai suatu kelompok dan pengaruhnya terhadap individu-iindividu yang menyusun kelompok.


 Teknik-teknik terapi kelompok
  • Melibatkan para anggotanya untuk terbuka dan aktif
  • Terapis turut membantu klien untuk melepaskan segala kecanggungannya, agar lebih  bisa terbuka dan menceritakan masalah yang dialaminya
  • Berfokus pada satu topik permasalahan yang hendak diselesaikan pertama kali. 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PSIKOTERAPI # BEHAVIOUR

Siti Aufaa Ni matin
18513527
3PA02


  • Penjelasan Terapi Behavior


Gerald Corey menjelaskan bahwa behavior adalah pendekatan­ pendekatan terhadap konseling dan psikoterapi yang berkaitan dengan pengubahan tingkah laku. Pendekatan, teknik dan prosedur yang dilakukan berakar pada berbagai teori tentang belajar. Pelopor­ pelopor aliran Behavioristik pada dasarnya berpegang pada keyakinan bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar, oleh karena itu dapat diubah dengan belajar baru.
Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan­ kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Aktifitas inilah yang disebut sebagai belajar.
Corey (1977) dan George dan Cristiani (1990) yang dikutip oleh Latipun dalam bukunya Psikologi Konseling mengemukakan ciri­ ciri Terapi Behavior, yaitu:
a.       Berfokus pada tingkah laku yang tampak dan spesifik
b.      Memerlukan kecermatan dalam perumusan tujuan terapeutik
c.       Mengembangkan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien
d.      Penafsiran objektif atas tujuan terapeutik
  • Langkah-langkah terapi Behaviour:
Terapi Behavior beranggapan bahwa kondisi klien merupakan akibat dari stimulus konselor, dengan begitu konselor dalam setiap mengadakan konseling harus mempunyai langkah­ langkah yang jelas dan tepat untuk lebih mudah memberikan stimulus kepada klien, sehingga klien dengan mudah dan cepat merasakan stimulus yang diberikan.
Sedangkan menurut Wingkel fase­fase dalam proses konseling dalam layanan konseling individualnya yaitu:
a.       Pembukaan, membagun hubungan pribadi antara konselor dan konseling.
1)      Menyambut kedatangan konseli.
2)      Mengajak berbasabasi sebentar.
3)      Menjelaskan kekhususan dari berwawancara konseling.
4)      Mempersilahkan konseli untuk mengemukakan hal yang ingin dibicarakan.
b.    Penjelasan, menerima ungkapan konseli apa adanya serta mendengarkan dengan penuh perhatian. Berusaha menentukan jenis masalah dan pendekatan konseling yang sebaiknya diambil.
c.     Penggalian latar belakang masalah, mengadakan analisa kasus, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
d.   Penyelesaian masalah, menyalurkan arus pemikiran konseli, sesuai dengan pendekatan konseling yang dipilih.
e.     Penutup, megahiri hubungan pribadi dengan konseli.
1)      Memberikan ringkasan jalannya pembicaraan.
2)      Menegaskan kembali ketentuan / keputusan yang ingin diambil.
3)      Memberikan semangat.
4)      Menawarkan bantuannya bila kelak timbul persoalan baru.
5)      Berpisah dengan konseli.
Dari urain tentang fase/tahap dalam proses konseling diatas, fase 2,3,dan 4 merupakan inti proses konseling
  • Teknik-teknik terapi behavior
Ada sejumlah teknik yang dapat dilakukan dalam terapi behavior, yaitu:
a.     Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif biasanya berupa kecemasan, dan mnyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang berangsur dan santai.
b.     Terapi Implosif
Terapi Implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang­ ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi­ konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus­ stimulus yang menimbulkan kecemasan.
c.      Latihan Perilaku Asertif
Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.
d.     Pengkondisian Aversi
Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.
e.      Pembentukan Perilaku Model
Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik atau lainnya yang dapat teramati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.
f.      Kontrak Perilaku
Kontrak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi ini konselor memberikan ganjaran positif dipentingkandaripada memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil
sumber:
http://digilib.uinsby.ac.id/10131/5/bab%202.pdf
http://www.psikoterapis.com/?en_metode-psikoterapi-yang-dipakai,16
http://dokumen.tips/documents/psikoterapi-behavioral.html


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PAIKOTERAPI #CLIENT CENTERED



Siti Aufaa Nimatin
18513527
3PA02


Penjelasan Client Centered

Carl R. Rogers mengembangkan terapi clien centered sebagai reaksi terhadap apa yang disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari terapi humanistik yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri. 

Menurut Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa: terapi client centered merupakan tekhnik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri, klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang sebagai partner dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri.

Jadi terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, yang mana seorang konselor hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar dari masalah yang dihadapinya.

Tujuan Terapi Client Centered 
1.  Keterbukaan terhadap pengalaman
2. Membangun rasa percaya terhadap diri sendiri
3.Tempat evaluasi internal yang berkaitan dengan kepercayaan diri, berrati lebih banyak mencari jawaban- jawaban pada diri sendiri bagi masalah- masalah keberadaannya
4. Kesediaan untuk menjadi suatu proses

Proses konseling dapat di bagi menjadi empat tahap, yaitu: 
1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan- kesulitannya.
3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam.
4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih  teraktualisasi,  dengan  jalan  menghilangkaln  pengalaman  yang dialaminya.
a.   Klien datang kepada konselor dengan mimik wajah yang sangat kusam, takut, pakaian keadaan tidak rapi. Seakan-akan masalah yang dihadapinya sangat besar.
b.  Klien datang kepada konselor dan mempunyai harapan dapat memperoleh bantuan, kemudian konselor memberikan alternative bantuan antara lain bimbingan konseling individu, konseling behavior, dan terapi client centered. Dari beberapa alternative bimbingan yang diberikan maka alternative yang cocok diberikan kepada konseli adalah terapi client centered karena sesuai dengan masalah yang dialami klien.
c.     Pada saat awal proses konseling konseli datang dengan sikap yang ragu- ragu, takut. Pada saat konseli ditanya oleh konselor maka jawaban yang diberikan oleh konseli belum bisa berterus terang, sehingga membutuhkan waktu untuk selanjutnya, dan usaha yang dilakukan oleh konselor adalah menanamkan kepada konseli.
d.   Pada tahap terapi yang terakhir ini konseli mulai menghilangkan sikap takut, dan ragu- ragu. Sehingga konseli sudah mulai terbuka didepan konselor tentang permasalahan yang dialaminya, dan konseli mulai menceritakan hal- hal dengan permasalahan yang dihadapi.

Tekhnik terapi Client- Centered
Secara garis besar tekhnik terapi Client- Centered yakni:
  1. Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala kondisi. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami.
  1. Konselor memungkinkan konseli untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya
Source:
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika Aditama
Suryabrata, Sumadi. (2010). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS