FENOMENA DEPRESI
#DEPRESI
Pasti kalian pernah dong mendengar soal
DEPRESI atau bahkan mengalami DEPRESI? nah disni akan di bahas mengenai
depresi, baca baik baik ya....
Depresi
merupakan gangguan kejiwaan yang menyebabkan emosi seseorang mengalami
penyimpangan afektif yang ditandai oleh adanya konsep negative yang ditunjukkan
kepada dirinya sendiri, regresif, perasaan bersalah, kesedihan, perasaan tidak
berguna, putus asa dan harga diri rendah.
Depresi akan
menjadi wajar ketika orang tua meninggal dunia dan secara langsung kita akan
berubah menjadi depresif: sedih, dihinggapi rasa kehilangan. Meski demikian
mood ini hanya bersifat semntara. Dengan berjalannya waktu kita akan merasa
terbiasa dan depresif akan hilang, dan itu nmasih termasuk depresi yang normal.
Selain normal ada juga yang mengalami dpresi akut, biasanya waktunya
berkepanjangan tak jarang mengakirinya dengan bunuh
diri yang mungkin dapat menyelesaikan semua masalah yang terjadi.
#BUNUH DIRI
Apa yang terlintas
dalam pikiran Anda sewaktu mendengar kata bunuh diri? Beberapa orang bisa jadi
berpikir bahwa ini adalah tindakan pelarian seorang pengecut. Adapula yang
merasa bahwa bunuh diri adalah salah satu cara untuk meminta maaf kepada
seseorang. Tak sedikit juga yang mengatakan bahwa ini adalah tindakan bodoh.
Lalu, apa sebab utama maraknya kejadian bunuh diri?
Pikiran-pikiran
bunuh diri menjadi cukup umum bagi orang yang mengalami gangguan depresi mayor
atau depresi berat. Suatu survei terkini yang cukup mewakili secara nasional
menemukan bahwa 13% dari orang dewasa di AS dilaporkan pernah memiliki pikiran
bunuh diri dan 4,6% dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri (Kessler, Borges,
& Walters, 1999).
Model psikodinamika
klasik memandang depresi sebagai pengalihan kedalam dari rasa marah terhadap
representasi internal atas objek cinta yang hilang. Kemudian, bunuh diri
mewakili kemarahan yang diarahkan kedalam yang menjadi bersifat membunuh. Jadi,
orang yang bunuh diri tidak berusaha menghacurkan dirinya sendiri.
Mereka malah
mencari cara untuk mengekspresikan rasa marah mereka terhadap representasi
internal atas objek cintanya. Freud berspekulasi bahwa bunuh diri kemungkinan
di motivasi oleh "insting kematian," suatu kecenderungan untuk
kembali kekeadaan bebas tekanan yang ada sebelum kelahiran. sedangkan menurut
teoritikus eksistensial dan humanistik menghubungkan bunuh diri dengan persepsi
bahwa hidupnya lebih menjemukkan, lebih kosong, dan lebih membosankan daripada
orang yang tidak bunuh diri. (Mehrabian & Weinstein, 1985).
Peristiwa kematian tragis aktor Hollywood
Robin Williams memicu perdebatan yang lebih luas mengenai depresi dan bagaimana
lingkungan menghadapi masalah kesehatan mental. Sejumlah diskusi telah banyak
dilakukan seputar penyebab kematian Robin Williams - yang dikenal sebagai
komedian - akibat bunuh diri dan fakta bahwa dia mengalami depresi selama
beberapa tahun.
"Berita kematian Robin Williams -yang dikenal
melalui film Good Morning Vietnam, Mrs Doubtfire, dan serial televisi Mork and
Mindy - mengejutkan banyak orang.
Meski di masa hidupnya dia sempat mengungkapkan
mengalami masalah dengan alkohol dan narkoba serta depresi.
Laporan terakhir menyebutkan Robin Williams
menderita Parkinson
stadium awal, pada Jumat (15/08).
Tetapi kematian juga menimbulkan pertanyaan
mengenai apakah masalah kesehatan mental mendapatkan prioritas yang sama dengan
penyakit fisik.
Sebuah diskusi yang diangkat dalam program Today
yang menampilkan Adrian Strain, yang putranya bunuh diri ketika berusia 34
tahun.
Dia mengungkapkan fakta bahwa sebagian besar
orang hanya sedikit mengetahui tentang masalah kesehatan mental, dan sebagai
orangtua dia selalu khawatir apakah dia telah melakukan upaya yang cukup untuk
mengatasinya.
Program tersebut juga mewawancarai Presiden
Psikiatris Royal College Sir Simon Wessely.
Dia menggarisbawahi bahwa masyarakat
"rupanya lebih menerima" orang dengan penyakit fisik seperti tekanan
darah tinggi atau kanker mendapatkan perawatan atau tahu penanganan medis untuk
penyakit tersebut. Sementara orang dengan masalah kesehatan
mental yang mendapatkan penanganan medis hanya 40%.
Prof Wessely mengatakan masalah tersebut
sangat rumit, karena orang yang mengetahui dirinya mengalami masalah kesehatan
mental enggan untuk mengungkapnya karena khawatir kehilangan pekerjaan.
Dalam diskusi juga muncul desakan agar
masalah kesehatan mental agar lebih diperhatikan. Kasus Robin Williams yang
meninggal karena gantung diri menberikan dorongan baru dalam diskusi tentang
penanganan depresi. "
Faktor psikologis seperti
kesedihan yang mendalam atau stress yang berkepanjangan dan terus ditekan.
Perubahan dan kehilangan dari segi fisik, psikologis, sosial dan ekonomi pada
diri individu akan dapat menimbulkan depresi.
Berdasarkan teori kognitif
(Kaplan dan Sadock, 1997) menyatalan bahwa interpretasi yang keliru
(misinterpretation) kognitif yang sering adalah melibatkan distorsi negative
pengalaman hidup, penilaian diri yang negative, pesimisme dan keputus asaan.
Pandangan negative yang dipelajari tersebut selanjutnya menyebabkan perasaan
depresi. Terapi kognitif berusaha untuk mengidentifikasikan kognisi negative
dengan menggunakan tugas perilaku, seperti mencatat dan segera sadar
memodifikasi pikiran pasien depresi.
Sumber:
Widyarini, Nilam. (2009). Kunci Pengembangan
Diri. Jakarta: Elex Media Komputindo
Semium, Yustinus. (2006). Gangguan Mental 2. Yogyakarta:
Kanisius
(http://www.bbc.co.uk/indonesia/majalah/2014/08/140817_kesehatan_depresi)
HUBUNGAN
KESEHATAN MENTAL DENGAN KECERDASAN EMOSIONAL
menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun
1948 menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan
fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau
kelemahan”
Pada dasarnya kesehatan itu meliputi empat aspek,
antara lain :
1. Kesehatan fisik merupakan Semua
organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
2. Kesehatan mental (jiwa)mencakup 3
komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual
3. Kesehatan sosial, terwujud apabila
seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik,
tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi,
politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai
4. Kesehatan dari aspek ekonomi
terlihat bisa seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang
menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau
keluarganya secara finansial.
Kata emosi berasal dari
bahasa latin ,
yaitu emovere,
yang berarti bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan
bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Kecerdasan Emosi atau Emotional Quotation (EQ)
meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, kesadaran serta pemahaman tentang
emosi dan kemampuan untuk mengatur dan mengendalikannya.
Kecerdasan emosi dapat juga diartikan sebagai
kemampuan Mental yang membantu kita mengendalikan dan memahami
perasaan-perasaan kita dan orang lain yang menuntun kepada kemampuan untuk
mengatur perasaan-perasaan tersebut.
Jadi orang yang cerdas secara emosi bukan hanya
memiliki emosi atau perasaan-perasaan, tetapi juga memahami apa artinya. Dapat
melihat diri sendiri seperti orang lain melihat kita, mampu memahami orang lain
seolah-olah apa yang dirasakan orang itu kita rasakan juga.
#Contoh kasus
Sebut saja kasus
Widiastuti, bocah berusia lima tahun yang mengalami rangkaian penganiayaan oleh
ibunya sendiri hingga akhirnya meninggal dunia (17/5). Bayi malang Khodijah
juga mengalami nasib yang sama akibat dianiaya oleh ayah kandungnya sendiri
(3/12). Peristiwa yang menghebohkan masyarakat Bangkinang pertengahan bulan ini
adalah tindakan yang dilakukan orang tua kandung Adit, 6, yang selain tega
menganiaya korban hingga terluka parah, juga dengan sampai hati membuang Adit
ke kebun kelapa sawit (19/12)
Dari penjelasan diatas
dapat di ambil kesimpulan bahwa orang yang sehat secara mental sangat
mempengaruhi emosionalnya atau bagaimana dia mengekspresikan emosionalnya
kepada orang lain seperti kasus di awal bahwa ibunya memiliki kesehatan mental
yang tidak baik karena terbukti dengan bagaimana dia memperlakukan anaknya yang
tidak layak dan dia tidak memiliki kecerdasan emosional karena dia tidak mampu
mengendalikan emosinalnya kepada sang anak sehingga sang anak menjadi korban
emosional sang ibu akibat kesehatan mental yang rendah.
Sumber:
Semiun, Y., (2006). Kesehatan
mental 1. Yogyakarta: Penerbit Kanisius
Habsari, Sri. (2005). Bimbimngan Konseling dan SMA. Jakarta:
Grasindo










