Siti
Aufaa Nimatin
18513527
3PA02
Penjelasan Client Centered
Carl R.
Rogers mengembangkan terapi clien centered sebagai reaksi terhadap apa yang
disebutnya keterbatasan- keterbatasan mendasar dari psikoanalisis. Pada
hakikatnya, pendekatan client centererd adalah cabang dari terapi humanistik
yang menggaris bawahi tindakan mengalami klien berikut dunia subjektif dan
fenomenalnya. Pendekatan client centered ini menaruh kepercayaan yang besar
pada kesanggupan klien untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya
sendiri.
Menurut
Rogers yang dikutip oleh Gerald Corey menyebutkan bahwa: terapi client centered
merupakan tekhnik konseling dimana yang paling berperan adalah klien sendiri,
klien dibiarkan untuk menemukan solusi mereka sendiri terhadap masalah yang
tengah mereka hadapi. Hal ini memberikan pengertian bahwa klien dipandang
sebagai partner dan konselor hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang
memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri.
Jadi
terapi client centered adalah terapi yang berpusat pada diri klien, yang mana
seorang konselor hanya memberikan terapi serta mengawasi klien pada saat
mendapatkan pemberian terapi tersebut agar klien dapat berkembang atau keluar
dari masalah yang dihadapinya.
Tujuan Terapi Client Centered
1. Keterbukaan terhadap pengalaman
2. Membangun rasa percaya terhadap diri sendiri
3.Tempat evaluasi internal yang berkaitan dengan kepercayaan diri, berrati lebih banyak mencari jawaban- jawaban pada diri sendiri bagi masalah- masalah keberadaannya
4. Kesediaan untuk menjadi suatu proses
1. Keterbukaan terhadap pengalaman
2. Membangun rasa percaya terhadap diri sendiri
3.Tempat evaluasi internal yang berkaitan dengan kepercayaan diri, berrati lebih banyak mencari jawaban- jawaban pada diri sendiri bagi masalah- masalah keberadaannya
4. Kesediaan untuk menjadi suatu proses
Proses konseling dapat di bagi menjadi
empat tahap, yaitu:
1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan- kesulitannya.
3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam.
4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkaln pengalaman yang dialaminya.
1. Klien datang ke konselor dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri tidak baik.
2. Saat klien menjumpai konselor dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang hsedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan- kesulitannya.
3. Pada awal konseling klien menunjukkan perilaku, sikap, dan perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada konselor secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam.
4. Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku yang kaku, membuka diri terhadap pengalamannya, dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkaln pengalaman yang dialaminya.
a. Klien
datang kepada konselor dengan mimik wajah yang sangat kusam, takut, pakaian
keadaan tidak rapi. Seakan-akan masalah yang dihadapinya sangat besar.
b. Klien
datang kepada konselor dan mempunyai harapan dapat memperoleh bantuan, kemudian
konselor memberikan alternative bantuan antara lain bimbingan konseling
individu, konseling behavior, dan terapi client centered. Dari beberapa
alternative bimbingan yang diberikan maka alternative yang cocok diberikan
kepada konseli adalah terapi client centered karena sesuai dengan masalah yang
dialami klien.
c. Pada
saat awal proses konseling konseli datang dengan sikap yang ragu- ragu, takut.
Pada saat konseli ditanya oleh konselor maka jawaban yang diberikan oleh
konseli belum bisa berterus terang, sehingga membutuhkan waktu untuk
selanjutnya, dan usaha yang dilakukan oleh konselor adalah menanamkan kepada
konseli.
d. Pada
tahap terapi yang terakhir ini konseli mulai menghilangkan sikap takut, dan
ragu- ragu. Sehingga konseli sudah mulai terbuka didepan konselor tentang
permasalahan yang dialaminya, dan konseli mulai menceritakan hal- hal dengan
permasalahan yang dihadapi.
Tekhnik
terapi Client- Centered
Secara garis besar tekhnik terapi Client- Centered yakni:
- Konselor menciptakan suasana komunikasi antar pribadi yang merealisasikan segala kondisi. Konselor menjadi seorang pendengar yang sabar dan peka, yang menyakinkan konseli dia diterima dan dipahami.
- Konselor memungkinkan konseli untuk mengungkapkan seluruh perasaannya secara jujur, lebih memahami diri sendiri dan mengembangkan suatu tujuan perubahan dalam diri sendiri dan perilakunya
Source:
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT. Refika
Aditama
Suryabrata, Sumadi. (2010). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers








